Di Balik Layar Film ANMB I Sebuah Kekuatan Gus Irawan Pasaribu Sesungguhnya

be7685026070406a215779b242f1aa2e_L

“Mantap pak gus…mudahn2apa yang dikatakan sesuai dngn kenyataan.amiin..,” tulis seorang komentator, Muhammad Awal, warga Medan, di laman Youtube untuk film bergenre dokumenter berjudul Anak Naburju Menggapai Bintang (ANMB).

Kemudian dia menulis lagi : “Rakyat Indonesia khususnya sumut sngt merindukan sosok pemimpin yang bjaksana.bukn orng yang pintar,pntar bkn berart bjaksna.krn bnyk pmimpn yng intelek smpai2 rakyat ny dijdikan sapi perahan untk kepentingn pribadi dan sklompok golngn,ayo pak gus kmi mndukung mu slma kmu brani untk tampil dmi keadilan dan kbnaran yang telah lama di impikan oleh bngsa ne khususn ny sumut.”

Memang, sejak diunggah ke Youtube medio Agustus 2012 lalu, film dokumenter biografi Gus Irawan Pasaribu, menyita banyak perhatian. Sejauh ini akumulasi penonton mencapai 6000-an orang dengan beragam nukilan. Tentu, ini di luar hitungan berapa banyak lagi penonton yang mengakses melalui home video atau DVD serta nonton barengnya. Di Youtube, film alur maju mundur berdurasi 1 jam ini dibelah-belah menjadi 12 segmen oleh salahsatu rumah produksi di Medan yang membuat film tersebut, yakni Sineas Film Documentary atau lebih dikenal SFD Indonesia.

Film ANMB berkisah tentang bagaimana Gus Irawan Pasaribu menjalani pekerjaannya sebagai Direktur Bank Sumut, masa kecilnya bersama orangtua dan ke-6 saudaranya di Kota Padang Sidempuan, Sumatera Utara dan kesehariannya bersama istri dan anak-anaknya.

Pengunggah terbanyak di segmen 1-2 dimana Gus Irawan sempat melelehkan air mata ketika menggingat kembali masa kecil serta kisah perjuangan hebat ibundanya, Almarhumah Halimah Pakpahan, membesarkan anak-anaknya. Tak kalah jauh hebatnya di segmen 8 saat dimana seorang ibu penerima keredit mikro dari Bank Sumut yang diprakarsai Gus Irawan menangis haru. Perempuan bernama Maya Simorangkir itu bertutur apa adanya untuk sebuah ungkapan terimakasihnya pada seorang Gus Irawan yang telah memperhatikan kaumnya dalam meningkatkan perekonomian keluarga miskin.

Yang menarik lainnya adalah testimoni yang muncul secara spontan dan natural dari beberapa narasumber tentang sosok Gus Irawan mulai masa kecil hingga kekinian. Bahkan pada saat pengakuan dua orang sahabat masa kecil Gus Irawan terbangun secara alamiah. Tak sedikitpun terkesan ada pengarahan dari belakang kamera. Demikian pula dengan pertemuan Gus bersama para guru sekolah dasarnya. Semua berlangsung secara natural serta lugas di tangkap kamera dan kemudian tersaji secara faktual dalam film ANMB. Sutradara nyaris melepas unsur pengarahan sosok tapi lebih memainkan perannya di unsur sinematografi-nya. Inilah yang membuat film ANMB terasa lebih kuat unsur observation documentary-nya namun tetap terbalut dalam seni tinggi.

Dalam film ANMB, Sutradara sekaligus Kameramen, Onny Kresnawan, lebih banyak menggali masa lalu Gus Irawan dari kesaksian saudara-saudara, guru dan teman dekat. Kekuatan natural visual tetap dipertahankan sebagai bentuk dokumenter sesungguhnya. Film ANMB bisa jadi lebih faktual dari film-film sejenis yang pernah dibesut Onny, karena akurasi dari testimoni dan detail kejadian per kejadian masa silam Gus terangkai seapik dan selembut mungkin.

Sebelumnya Onny pernah memproduksi film biografi Sarmedi Purba, seorang anak desa dari Sondi Raya, Simalungun, Sumatera Utara, untuk film berjudul Titian Nadi Sang Dokter Pelangi. Juga Film Membangun Negeri dengan Cinta, film dokumenter biografi Sofyan Tan. Dan saat ini Onny juga tengah terlibat menggarap dokumenter perjalanan Soekirman yang berjudul Episode Jalanan Si Wong Ndeso, yakni tentang potret unik, jenaka dan penuh pemikiran dari seorang anak desa yang saat ini menjabat wakil bupati Serdang Bedagai dan sedang ikut dalam pencalonan wakil Gubernur Sumatera Utara. Rekaman perjalanan Soekirman yang disajikan dengan non narasi dan apa adanya ini sudah mulai tersaji episode per episode di laman Youtube.

Tidak sulit bagi Onny Kresnawan untuk menyetting masa kecil Gus Irawan. Onny sudah terbiasa menggarap film bergenre serupa dimana pola yang sama dilakukan : tidak ada casting untuk talent, karena naturalisasi yang ingin lebih ditonjolkan dalam film. Untuk pemeran Gus Irawan kecil, Onny memakai anak-anak lokal sekitar seperti Veri Ardiansyah Siregar, untuk kakak Gus kecil diperankan Putri Diana Siregar dan pemeran Ibu Gus Irawan dilakoni oleh Lisliawati Pasaribu, kakak kandung Gus Irawan sendiri.

Hampir 75 persen lokasi syuting di Kota Padang Sidempuan. Selebihnya di Medan, Nias, Tobasa, Tarutung, Labuhan Batu dan Jakarta, sebagai cuplikan perjalanan yang direkam Onny Kresnawan selama 4 bulan mengikuti Gus Irawan. Aktivitas perjalanan Gus Irawan terus diikuti dengan konsep naturalitas, fatktualitas serta kejujuran.

Film ANMB diproduksi atas dasar kekaguman Onny Kresnawan terhadap kisah perjalanan inspiratif Gus Irawan. “Alasan komersil atau financial lebih kecil nilainya dibanding dorongan hati saya,” katanya. Sepengetahuan Onny, ide film ini bahkan terbangun jauh sebelum Gus Irawan Pasaribu berniat maju sebagai orang nomor satu di Propinsi Sumatera Utara.

Dari pengalaman memproduksi film dokumenter, Onny mengaku pembuatan film ANMB yang paling menguras keringat, pikiran dan waktu. Onny bahkan baru menyadari ia telah berhadapan dengan seorang yang selama ini ia kenal melalui percakapan dan media sebagai bukan bankir biasa. “Saya hampir memutuskan untuk istirahat beberapa hari,” ungkapnya.

Onny menceritakan bagaimana dia dan kru harus lintang pukang mengikuti kegiatan Gus Irawan : bertemu dengan parengge-rengge (Medan : pedagang serabutan) di pasar kemudian dilanjutkan dengan seabrek acara protokoler, namun Gus masih sanggup menyempatkan bermain futsal atau bermain bola kaki sore atau malam harinya “Stamina Bang Gus cukup prima. Saya dan kru harus mengikuti perjalanannya, mulai pagi, siang, sore bahkan malam,” ujar Onny mengenang.

Jika boleh dibilang, pengalaman selama syuting mementahkan pikiran Onny yang menganggap Gus Irawan sebagai sosok yang inklusif dan eksklusif. Bagaimana Gus Irawan berbaur dengan parengge-rengge, dengan anak-anak atlet dan larut dalam kebersahajaan, bersuka dalam iringan musik dan berjibaku dengan sempitnya waktu, membuat Onny mengarah kepada satu kesimpulan: Gus Irawan Pasaribu merupakan vigur pemimpin yang sederhana, humanis, cerdas dan inspiratif. Meski menurut Onny, kadangkala pribadi prinsipalis dan perfectsionis yang melekat pada Gus sering diartikan kaku untuk sebagian orang yang belum mengenalnya secara dekat.

“Saya memahami karakter humanis seseorang Gus dari bagaimana dia berhadapan dengan masyarakat terutama dengan ibu-ibu saat dia didaulat naik odong-odong. Gus Irawan saat itu memang sangat menikmatinya sembari bercanda memangku seorang bocah” ujar Onny yang juga dikenal sebagai salah seorang pemrakarsa Festival Film Anak (FFA).

Untuk pemilihan judul, Onny menyimpulkan dari pengamatan langsung serta banyaknya testimoni yang mengarah pada sosok Gus Irawan sebagai Anak Naburju (Anak Baik- red) . Kemudian olah vokal Gus yang juga mumpuni membuat Onny tertarik untuk membuat langsung rekaman lagu dari suara Gus Irawan. Lagu Anakku Naburju serta Menggapai Bintang adalah lagu favorit Gus Irawan yang kemudian diputuskan untuk menjadi themesong film ANMB. Toh, dua judul lagu itu sangat dekat dengan thema film ANMB. Untuk menguatkan unsur lokalitasnya, lagu asal Tapanuli Selatan berjudul Marudan Marlasniari (Berhujan-hujan berpanas-panasan) yang dinyanyikan Hj. Farida juga menjadi opening dalam film.

“Bang Gus senang dengan lagu Marudan Marlasniari ini. Mungkin baginya lagu ini bisa menjadi nasihat dan mengingatkannya agar ia tak ingin menjadi orang yang lupa diri bila sudah sukses kelak,” ujar Onny seperti sebagaimana dituturkan seorang kerabat Gus yang juga ikut mengusulkan lagu ini. Dan bagi Gus Irawan Pasaribu, Film ANMB bisa menjadi stimulan yang cukup apik dalam perjalanannya di panggung politik Sumatera Utara.

Dalam penggarapan film ANMB Onny yang juga bertindak sebagai editor dibantu seorang asstistennya Anto Ungsi serta memercayakan Khairiah Lubis sebagai reporter sekaligus penulis naskah, Eddy Siswanto sebagai narator dan dibantu tim kreatif Erwinsyah, Kalimonang Siregar, Iswanto Darus dan Fachriz Tanjung.*

Advertisements

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s