Pasar Modern Menjamur, Pedagang Mengeluh Ke Gus Irawan

948378d6a67ac0d7c7c6728581b072ab_L

ASAHAN- Pedagang di Pasar Misbah, Kisaran, mengkhawatirkan ekspansi besar-besaran pasar modern. Terus menjamurnya gerai toko modern atau gerai minimarket dikhawatirkan mematikan pedagang kecil dan pasar tradisional. Saat berkunjung ke Pasar Misbah, Jalan Haji Misbah, Kota Kisaran, Kabupaten Asahan, Senin (14/1), Gus Irawan Pasaribu menerima banyak keluhan soal menjamurnya pasar modern di daerah itu.

“Saya khawatir menjamurnya pasar modern bisa mengalihkan konsumen,” kata Sarman, seorang pedagang sayur mayur.Menurutnya, pasar tradisional kian terdesak oleh menjamurnya pasar modern, minimarket, dan proyek pembangunan yang tidak memperhitungkan dampak buruk terhadap usaha kecil. “Seharusnya pemerintah melindungi kami,” kata warga Kelurahan Teladan, Kecamatan Kisaran Timur Kota ini. Di sisi lain, pedagang juga mengeluhkan kurang terawatnya pasar yang mengakibatkan enggannya pembeli datang.“Harusnya seragam semua, ditata rapi. Pembeli nyaman. Pasar jadi ramai dan pendapatan kami bisa bertambah,” sebut pedagang lain, Karmin, warga Desa Lestari, Kecamatan Kisaran Timur Kota .

         Calon Gubernur Sumatera Utara nomor urut 1, Gus Irawan Pasaribu, menyayangkan atas menjamurnya toko-toko modern. Kata dia, jika hal ini terus dibiarkan, maka pedagang tradisional akan gulung tikar. “Bila melihat pertumbuhannya sudah melampaui batas, pemerintah seharusnya mengeluarkan moratorium pemberian izin pasar modern. Pemerintah semestinya mengeluarkan kebijakan ekonomi yang pro rakyat, agar pedagang tradisional di Sumut bisa diselamatkan,” kata Gus yang juga ketua Masyarakat Ekonomi Syariah (MES) Sumut ini. Menurut peraih predikat Man Of The Year tahun 2011 versi Harian Waspada ini, sektor UKM adalah nadi perekonomian yang menyangkut hajat hidup masyarakat kecil saat ini, dan berhasil bertahan saat krisis ekonomi mendera pada tahun 1998.

“Kebijakan yang tidak berpihak adalah sumber dari segala masalah saat ini. Pasar tradisional semestinya dikelola dan ditata dengan baik agar transaksi berjalan dengan baik. Ini malah digusur,” ujar mantan Dirut Bank Sumut ini.

Posko Relawan GusMan Dirusak OTK

DSCN2334DELISERDANG-Posko relawan GusMan masyarakat desa bersatu di Jalan Garuda, Perumnas Mandala, Kecamatan Percut Seituan, Deliserdang, persis di bawah jembatan Tol dirusak oleh orang tak dikenal (OTK), Minggu (13/1) sekira pukul 04:00.

Pantauan di lokasi, alat peraga dan baliho pasangan Cagubsu-Cawagubsu Gus Irawan Pasaribu-Soekirman (GusMan) tampak berserakan di lantai posko. Baliho/spanduk yang dirusak juga terlihat dibuang ke parit di belakang posko. Sementara, baliho bergambar GusMan yang dipajang di depan posko dikoyak dari bagian wajah ke bawah. Sedangkan, jarak beberapa meter dari posko tersebut, baliho Cagubsu-Cawagubsu Gatot Pujonugroho-T Erry Nuradi dan Cagubsu-Cawagubsu Amri Tambunan-RE Nainggolan tampak berdiri kokoh.

Sejumlah saksi, kepada wartawan menuturkan, aksi pengrusakan itu terjadi sekitar pukul 04:00. Saat itu dua pria yang satunya mengenakan topi mengendarai sepedamotor jenis bebek hilir mudik diduga untuk melihat-lihat situasi di sekitar posko. Kemudian keduanya turun dan langsung menuju posko yang saat itu sedang kosong dan merusak serta mengoyak seluruh baliho/spanduk serta alat peraga GusMan di posko.
Setelah itu, sebagian baliho yang sudah dirusak di buang ke parit di belakang posko dan sebagian lagi dibiarkan berserakan di lantai posko. “Setelah merusak, keduanya bergegas pergi ke arah yang berbeda. Satu pelaku berjalan kaki terburu-buru pergi ke arah Medan dan pelaku yang satunya dengan mengendarai sepedamotor pergi ke arah Perumnas Mandala,” ujar salah seorang saksi Feri yang mengaku baru pulang dari warnet dan kemudian duduk di warung yang sudah tutup di seberang posko.
Senada dikatakan saksi lain, Roberto yang baru pulang menyaksikan hiburan band di Taman Bunga, Perumnas Mandala. “Wajah kedua pelaku dan ciri-cirinya tidak kelihatan jelas karena kondisi di sekitar Posko saat terjadinya pengrusakan itu dalam keadaan gelap. Pastinya kami menyaksikan usai melakukan aksinya kedua pelaku pergi kearah yang berbeda, satu berjalan kaki kearah Medan dan satu lagi pelaku memakai topi mengendarai sepedamotor tancap gas ke arah Perumnas Mandala. Kami tidak berani melarang karena takut pelaku membawa senjata,” tandas Roberto bersama dua saksi lain Wak Zul dan Marpaung.
Johan, salah seorang relawan menandaskan, peristiwa tersebut sudah dilaporkan ke Polsek Percut Seituan, namun pihak Polsek mengatakan belum dapat melakukan penyelidikan karena belum ada laporan resmi dari Panwascam. “Kami minta kepada pihak Panwascam dan Polisi segera memproses dan melakukan penyelidikan terhadap pengrusakan ini agar pelaku dan motif dibalik pengrusakan dapat diketahui secara pasti,” tegas Johan.
Dia menambahkan, mereka akan kembali melaporkan kejadian itu ke Polsek Percut Seituan dan ke Panwascam dengan membawa bukti alat peraga yang dirusak.
Tercatat, pengrusakan baliho/spanduk Cagubsu-Cawagubsu GusMan di wilayah Kabupaten Deliserdang bukan untuk yang pertama kalinya. Sebelumnya, Sabtu (24/11) di Jalan Jamin Ginting, Km 16-17, Kecamatan Pancur Batu, Deliserdang, persis di dekat Bank BRI baliho dan spanduk GusMan juga diturunkan dan dirusak oleh sejumlah pria.

Sumut Sejahtera

Perubahan SSSUMUT jauh tertinggal dari provinsi lain dengan berbagai indikator. Antara lain, kemiskinan. Kemiskinan Sumut memburuk karena pada 2010 hanya 11,31 persen malah meningkat pada 2011 menjadi 11,33 persen (1,4 juta jiwa). Ditambah masalah ketimpangan pertumbuhan, serta infrastruktur yang sangat memprihatinkan dengan kerusakan jalan mencapai 30 persen dari panjang 2.753,04 km.

Kemudian masalah pertanian yang harusnya jadi priotas malah menjadi kantong petani-petani miskin. Begitupula sektor kelautan dan perkebunan kita mengalami paradoks. Artinya potensi memadai tapi tak meningkatkan kesejahteraan masyarakat.

Ditambah masalah pendidikan, kesehatan, banjir, bencana alam, kerusakan lingkungan serta tata kelola pemerintahan. Atas berbagai masalah itulah kami menawarkan konsep Sumut Sejahtera .

Kalau dipercaya menjadi Gubernur dan Wakil Gubernur Sumut 2013-2018 kami akan benar-benar jadi pelayan masyarakat.

Mewujudkan  Sumut Sejahtera itu melalui misi menciptakan pemerintahan bersih dan penerapan system manajemen kinerja, pembenahan system dan prosedur kerja, serta diukur dengan standar pelayanan bebas KKN.

Misi berikutnya meningkatkan kualitas sumber daya manusia (SDM) dengan program wajib belajar 12 tahun. Gratis sampai dengan SLTA. Demikian juga jaminan kesehatan bagi warga masyarakat miskin.

Kondisi jalan negara yang buruk juga sangat jomplang dengan provinsi tetangga, menyebabkan pemborosan. Harus dilakukan terobosan ke pemerintah pusat dengan menggandeng 33 bupati/walikota, 30 anggota DPR RI dan 4 anggota DPD RI Dapil Sumut untuk bersatu menggalang kekuatan mendobrak pusat.

Kebijakan yang berpihak bagi masyarakat kecil suatu keniscayaan baik atas masalah pertanahan, petani, nelayan dan usaha mikro dan kecil serta pemberdayaan kaum perempuan yang seringkali terabaikan.

Dengan menjalankan misi dan program tersebut secara konsisten dan bertanggungjawab oleh dwitunggal pemimpin yang telah teruji akan dapat diwujudkan dalam Sumut Sejahtera.

Sumut Sejahtera haruslah terukur. Bila pada tahun 2011 angka kemiskinan masih tinggi 11,33 persen. Pada akhir tahun 2018 ditargetkan turun menjadi 5 persen. Sejalan dengan itu tentu saja akan ikut menekan pengangguran.

Hal ini dapat dicapai dengan memproduktifkan masyarakat miskin dengan pemberian modal bergulir minimal 50.000 KK setiap tahun. Untuk menghindarkan penganggur baru dari angkatan kerja baru maka dibuat program kewirausahaan bagi pemuda/mahasiswa 10.000 orang per tahun.

Tahun 2013 adalah momentum untuk mencapai Sumut Sejahtera. Bila kami diberi amanah kami haqqul yakin akan dapat mencapainya. Bahkan Sumut pada saatnya akan menjadi provinsi nomor 1 di Indonesia.